Mau Lagi, Nyonya?

Memuat info promosi...

Mau Lagi, Nyonya?

GoodNovel Selesai

Aku dibayar untuk menanam benih di rahim Bosku, agar dia memiliki keturunan demi mendapatkan hak waris. Ini tidak masuk akal, tapi nyatanya Bosku justru tergila gila padaku. Apalagi setelah dia tau ji...

Bab (1)

第1章

Aku dibayar untuk menanam benih di rahim Bosku, agar dia memiliki keturunan demi mendapatkan hak waris. Ini tidak masuk akal, tapi nyatanya Bosku justru tergila gila padaku. Apalagi setelah dia tau jika diriku ternyata seorang.... Bab 1 "500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya. “Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut. “Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio. Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan. Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah. Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri. ​"Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio, dan hasilnya sama. Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan," terang Sang Dokter tanpa ada keraguan akan hasil tersebut. ​Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya. ​"Permanen? Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang untuk sembuh? Dengan cara Operasi misalnya? Atau terapi hormon?" tanya Rio untuk meyakinkan dirinya sendiri. ​Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik," jelas Sang Dokter. ​Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya. ​Rio meratap. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja. Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu. Bayu pun terdiam usai mendengar perintah konyol itu. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya. “Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati. Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia. “Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. “Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu. “Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana. "Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang. Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB. Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala. Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. “Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu “Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya. Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Maudy, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya. “Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu? “Katakan,” “Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?” “Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut. “Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu. Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Maudy belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan. “Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya. “Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.” Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya. “Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!” Bab 2 “Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali tertutup. Tetapi, di balik pintu Bayu masih menyimpan pertanyaan yang belum terpecahkan. “Aneh, kenapa Pak Rio marah? Emangnya ada yang salah dengan pertanyaanku? Dia yang nyuruh aku menghamili istrinya, tapi saat aku tanya tentang caranya, dia malah emosi. Nanti, kalau aku tiba tiba main sesukaku, dikira aku lancang!” gerutu Bayu di dalam hati. Dia hendak kembali mengepel lantai, tetapi tiba tiba dia mendengar suara berisik dari dalam ruangan Maudy. Praaaaankkk!!! Sontak Bayu terkejut, dan dia memilih untuk tetap tinggal dan memastikan semua baik baik saja. Dia berniat untuk kembali masuk ke ruangan bosnya itu, tetapi dia urungkan niatnya karena hal itu pasti akan mengundang kemarahan Rio. Sehingga Bayu memilih berdiri di depan pintu sambil menguping. “Kamu keterlaluan Mas! Kamu jual tubuhku pada seorang OB! Aku nggak bisa terima ini semua! Kamu gila, kamu sangat keterlaluan!” teriak Maudy melampiaskan amarahnya pada suaminya, sambil melempar vas bunga yang ada di meja ke arah dinding, hingga pecah berkeping keping dan menimbulkan suara yang nyaring. Melihat tindakan istrinya, sontak Rio meradang. Dia paling tidak suka jika dibentak dan ucapannya dilawan. Apalagi, suara Maudy sangat keras, hingga terdengar ke luar ruangan tersebut. Sementara masalah yang sedang mereka hadapi, harusnya dirahasiakan. “Kecilkan suaramu dan tutup mulutmu!” geram Rio seraya mencengkeram mulut istrinya. Dia tidak peduli saat itu Maudy sedang menangis penuh tekanan. Suara Rio pun juga tidak kalah kerasnya dibanding Maudy, sehingga terdengar jelas di telinga Bayu yang berdiri di balik pintu. “Jangan cengeng! Kamu pikirkan baik baik, tanpa anak, kita tidak akan pernah dapat warisan! Itu yang harus kamu pikirkan! Kalau kamu tidak mau melakukan ini, apa kamu sudah siap hidup kere? Kita akan kehilangan semua fasilitas mewah kita. Kamu mau itu terjadi? Haaa? Jangan bodoh!” bentak Rio dengan nada suara yang tetap tinggi hingga membuat Bima tercengang di balik pintu. “Apa..? Jadi..? Pak Rio memintaku menghamili istrinya karena ingin dapat warisan? Gila! Kejam banget orang itu! Kasihan Bu Maudy. Padahal, harusnya Pak Rio tidak melakukan hal itu. Dia kan bisa menceraikan Bu Maudy, lalu menikahkannya dengan ku? Pasti aku kasih banyak keturunan. Hahahahh…” ucapnya dalam hati dengan enteng tanpa beban. Entah mengapa dalam keadaan genting seperti itu, bisa bisanya Bayu memikirkan hal yang konyol untuk menjadi pengganti Rio sebagai suami Maudy. Tetapi, dengan cepat Bayu menghentikan lamunan konyolnya dan fokus mendengarkan pertengkaran antara Maudy dan Bayu. “Tapi, kenapa harus dengan cara seperti itu? Kita bisa pakai cara lain. Aku bisa pura pura hamil, lalu kita adopsi anak dan kita akui itu anak kita. Itu jauh lebih menghargaiku, daripada memberikan tubuhku pada laki laki lain. Kamu sama sekali tidak menghargaiku dan tidak memikirkan perasaanku?” Maudy masih terus berontak dan tidak bisa mengendalikan diri. Hingga akhirnya sebuah tamparan melayang di pipi mulus CEO itu. “Kamu pikir keluargaku bodoh? Nggak bisa membedakan mana hamil asli dan hamil pura pura? Dan jika hal itu sampai terbongkar, justru akan berakibat fatal. Kamu tidak bisa hidup tanpa fasilitas, dan aku menginginkan warisan, tujuan kita sama. Jadi jangan persulit langkah kita dengan perasaan kamu!” Rio memenggal kalimatnya sambil mengatur nafas. “Kamu pikir, hanya kamu yang berkorban perasaan. Aku juga! Bayangkan, aku harus merelakan istriku dijamah laki laki lain agar hamil. Itu se menyakitkan. Tapi aku rela dan tidak egois seperti kamu!” lanjut Rio tetap dengan nada yang tinggi. Maudy menangis histeris mendengar ucapan suaminya yang menusuk relung hati. Sepertinya, keputusan itu memang sudah tidak bisa lagi diganggu gugat. Rio pandai memanipulasi. Dia juga menganggap dirinya korban, sehingga Maudy tidak punya alasan untuk merasa paling tersakiti dalam masalah tersebut. Melihat suasana di dalam ruangan semakin memanas, Bayu memilih untuk segera meninggalkan tempat. Selain karena tidak kuat mendengar pertengkaran mereka, Bayu juga tidak mau mendapat masalah baru jika ketahuan menguping di balik pintu. “Kasihan Bu Maudy, punya suami yang kejam . Tapi, tunggu… apa Pak Rio itu beneran letoy sampai sampai nggak bisa punya anak? Diiiiih, udah kerempeng, letoy, kejam pula. Apa coba yang dilihat Bu Maudy dari dia?? Harusnya Bu Maudy pilih aku…” celetuk Bayu sembari membanggakan dirinya sendiri sebelum meninggalkan tempat. Selama kembali bekerja, Bayu terus saja memikirkan tugas dari Rio. Otak ca**bulnya kadang sudah mulai memikirkan lekuk tubuh Maudy yang putih mulus. Tapi, dia harus kembali sadar diri dan posisi. “Sadar Bayu, sadar! Kamu cuma disuruh menghamili Bu Maudy! Setelah dia hamil, kamu akan dibuang! Jadi jangan berangan angan tinggi!” tegur Bayu mengingatkan dirinya sendiri agar tidak melampaui batasan. Sementara di dalam ruangannya, Maudy hanya bisa menangis. Rio segera keluar dari ruangan istrinya untuk menenangkan diri. Dia tidak bisa berlama lama melihat istrinya yang terus berontak dan terlihat memilukan seperti itu. Maudy menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia duduk sambil memeluk lututnya tanpa berhenti menangis. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meluapkan isi hatinya. Saat melihat Rio sudah keluar dari ruangan Maudy, Bayu mencoba mendekat kembali ke ruangan tersebut. Dia lihat, pintu ruangan Maudy tidak terkunci. Lalu perlahan, tangan Bayu Hendak menggapai gagang pintu lantas membukanya. Bayu lihat, di dalam ruangan itu Maudy sedang menangis. Dia tidak tega melihatnya, sehingga dia berniat untuk mendekat dan berusaha menenangkan bosnya tersebut. Dengan sangat pelan dan hati hati, Bayu melangkah ke arah Maudy. Maudy mengabaikan kehadiran Bayu. Akan tetapi, saat Bayu benar benar mendekat di sisinya, Maudy lantas bersuara. “Ngapain kamu ke sini?” tanya Maudy dengan nada penuh amarah. Sorot matanya sangat tajam dan siap memangsa Bayu. Sehingga membuat Bayu berdiri mematung dengan lidah yang kaku. Tapi, perlahan Bayu mengumpulkan tenaga untuk menjawab pertanyaan itu. “Emmm,maaf Bu Maudy. Saya cuma… mau….” Bab 3 “Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal ke arah Bayu tanpa sedikit pun memandang OB tersebut. Maudy sangat muak dan murka pada Bayu yang begitu saja menerima tawaran dari Rio. Bayu perlahan meraih brosur itu, dan di dalamnya ada alamat dan nomor kamar di hotel yang sudah ditentukan oleh Rio untuk bercocok tanam dengan Maudy. “Ini kan hotel elite? Aku bahkan belum pernah bermimpi pergi ke sana. Dan sekalinya ke sana, malah disuruh menghamili bidadari? Aku merasa jadi laki laki paling beruntung…” gumam Bayu di dalam hati sambil menahan senyum. Namun di depan Maudy, dia tetap menjaga sikap dan kesopanan. Lamunan Bayu tidak berlangsung lama. Brosur tebal itu mendadak terlempar kembali ke lantai, saat Bayu terkejut mendengar Maudy berteriak sambil mendorong tubuhnya. “Dasar laki laki biadab! Tidak tau diri! Tidak punya hati nurani! Apa semua laki laki di dunia ini tidak bermoral? Apa semua laki laki di dunia ini tidak ada yang bisa menghargai perempuan? Aku muak sama kamu! Aku benci! Pergi kamu! Pergiiiiii!!” Bayu hanya bisa diam dan menghela nafas mendengar cacian dari Maudy. Dia cukup tau perasaan Maudy, dan melawan bukanlah hal yang tepat. Bayu memilih diam, lalu perlahan beranjak dari ruangan bosnya sembari membawa brosur tebal yang bertuliskan alamat hotel yang harus dia datangi malam itu. Matahari sudah tergelincir ke barat, tanda jika para karyawan shift pagi sudah waktunya berkemas untuk pulang. Begitupun dengan Bayu. Sore itu, dia pulang dengan kondisi yang sangat lelah. Selain lelah karena pekerjaan, dia juga lelah pikiran menanggapi perintah konyol daribsuami bosnya. “Huufffttt! Akhirnya aku bisa merebahkan diri di kasur alot ini!” seru Bayu melepas penat seraya menatap langit langit kamar kosnya yang kumuh. Malam itu, sepertinya akan menjadi malam yang istimewa bagi dia, karena dia akan tidur di kasur empuk dan di ruangan berAC. Sungguh tempat yang nyaman yang belum pernah Bayu tempati. Sejenak Bayu memejamkan mata untuk membayangkan keindahan malam itu, tetapi seketika itu juga dia membuka matanya lalu bangun dari rebahan serta angan angannya. “Tapi, Bu Maudy itu galak dan kayaknya muak banget sama aku. Terus, gimana caraku menghamili dia? Masak iya aku paksa? Ah, tidak tidak. Rasanya pasti tidak enak kalau dipaksa,” ucap Bayu di dalam hati. Dia memikirkan cara untuk menghadapi Maudy. “Apa aku harus merayunya? Tapi, sepertinya dia galak hanya karena belum mengenalku saja, kalau sudah kenal, pasti dia jatuh cinta padaku. Aku kan lebih tampan dari suaminya, dan aku nggak letoy! Hahahhaha…” Lagi lagi Bayu berbangga diri. Tetapi, dia sadar jika situasi yang dia hadapi tidak semudah itu. Jarum jam terus berputar, dan kini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bayu harus segera bersiap untuk berangkat. Apapun yang akan dia hadapi, dia harus tetap maju demi pengobatan sang ibu. Meskipun dia harus menjinakkan singa betina yang liar. “Bu Maudy, aku datang!” serunya di dalam hati sambil melangkah pergi meninggalkan kamar kost kumuhnya. Hanya dengan menggunakan kemeja polos yang dia beli di pinggiran jalan, Bayu mendatangi hotel elite tersebut. Dia berjalan menuju ke lantai 3. Meski dia belum pernah masuk ke hotel tersebut, beruntungnya dia bisa menggunakan lift dengan baik. Jika tidak, mungkin dia akan menaiki anak tangga menuju ke kamar nomor 303. Ternyata Bayu datang lebih awal. Di sana, belum nampak kedatangan Rio dan Maudy. “Apa aku salah kamar ya?” tanya Bayu sembari mengecek kembali nomor kamar pada brosur tersebut. Tetapi memang tidak ada kesalahan di sana. “Kamarnya beneran ini, tetapi tidak ada Pak Rio dan Bu Maudy. Ah, lebih baik aku tunggu saja. Mungkin mereka masih di perjalanan,” gumam Bayu sambil memperhatikan area sekitar kamar untuk mencari keberadaan dua bosnya itu. Setelah menunggu dengan gelisah selama hampir satu jam, akhirnya Rio dan Maudy datang. Rio segera membuka pintu kamar itu, lalu mendorong Maudy untuk segera masuk. “Mas Rio!” teriak Maudy dengan mata yang sembab. Dia berharap suaminya berbaik hati untuk mengurungkan rencananya malam itu. “Diam Maudy! Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Dan kamu, lakukan tugasmu dengan baik!” tegas Rio pada istrinya, lalu memberi kode mata yang tajam kepada Bayu sambil menepuk bahu OB tersebut. Bayu mengangguk pelan sebagai tanda dia menerima perintah dari Rio dan akan melakukan tugas dengan baik. Setelah itu, dia sedikit melangkah ke arah pintu untuk menguncinya, setelah Rio keluar dari sana. Suara kunci pintu terdengar nyaring dan sangat menyeramkan bagi Maudy.Kini, dirinya benar benar sedang berada di ruangan itu berdua saja dengan Bayu. Segera dia berlari ke sudut kasur, lalu duduk meringkuk ketakutan. “Jangan mendekat! Atau aku akan…” Maudy berusaha mengancam Bayu, tetapi dia potong kalimatnya dan langsung menangis saat mengingat jika kehadiran Bayu di sana atas perintah suaminya. “Tenang Bu Maudy, tolong jangan menangis. Saya… saya tidak akan menyakiti Bu Maudy,” ucap Bayu dengan begitu hati hati agar Maudy tidak ketakutan dan agar Maudy berhenti menangis. Bayu masih berdiri di depan pintu. Dia tidak berani satu kali pun melangkah maju. Karena dia tidak ingin membuat bosnya makin ketakutan. “Aku ini ganteng dan baik hati Bu Maudy . Kamu tidak perlu takut begitu padaku,” gumam Bayu di dalam hati sembari menggaruk garuk kepalanya. Dia merasa heran dengan reaksi Maudy saat melihatnya. “Jangan mendekat! Sekali saja kamu melangkah maju, aku akan melompat dari jendela!” ancam Maudy, dan seketika membuat Bayu panik. “Eits..eits… jangan Bu Maudy! Jangan melompat. Bu Maudy ini masih muda, cantik dan kaya raya. Sayang sekali kalau harus mati di usia muda dengan sia sia. Bu Maudy yang tenang ya. Jangan takut begitu. Sayaaa… saya janji tidak akan bertindak kasar. Dan sayaaa, saya akan diam di sini sampai Bu Maudy merasa lebih baik.” Bayu panik saat mendengar ancaman Maudy yang akan melompat ke jendela. Sebisa mungkin dia merayu dan menenangkan bosnya itu. Padahal ancaman tersebut hanya gertakan Maudy agar Bayu tidak mendekat padanya. Jangankan mau lompat, melihat dari ketinggian tiga lantai saja Maudy sudah phobia. “Aduh, kenapa jadi begini? Apa iya aku akan berdiri terus di sini sampai pagi? Kalau begini, gimana Bu Maudy bisa hamil? Jangan sampai 500 juta ku melayang,” gumam Bayu di dalam hati sambil berdiri di depan pintu tanpa berani bergerak sedikit pun. Bab 4 Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya. Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia sudah benar benar tidak tahan. Dia mencoba memutar otak untuk mencari langkah aman saat bergerak. Hingga akhirnya dia harus mengeluarkan sedikit bualannya. “Bu Maudy, aku tau aku di sini merepotkan kamu. Tapi, akan lebih merepotkan lagi jika aku pingsan karena kakiku pegal. Jadi, izinkan aku untuk duduk sebentar,” ucap Bayu sembari berjalan beberapa langkah, lalu dengan beraninya duduk di kasur. Kaki dan pinggangnya seketika merasa nyaman. Apalagi untuk pertama kalinya dia duduk di kasur empuk dan mewah yang ada di hotel tersebut. Namun, kenyamanan itu tidak berlangsung lama. Maudy tiba tiba berteriak dan melempar Bayu dengan bantal, lalu menyuruhnya untuk segera turun dari kasur. “Pergi kamu! Pergi! Jangan mendekat! Aku jijik sama kamu! Jangan berani sentuh aku!” teriak Maudy. Dia bukan hanya melempar bantal ke arah Bayu, tetapi juga berusaha mendorong dan menendangnya. Laki laki itu berusaha menahan keseimbangan. Dia tidak ada niat memaksa Maudy, dia hanya ingin sedikit mencari kenyamanan di kasur empuk itu. Tetapi, tendangan Maudy terlalu kuat sehingga membuat Bayu kewalahan. “Baik Bu Maudy, baik. Saya akan turun. Jangan tendang saya lagi,” Pinta Bayu sembari mengangkat kedua tangannya. Tanda jika dirinya menyerah menghadapi bosnya itu. “Udah kaki pegal, baru juga duduk udah ditendang. Ini mah aku bisa sakit pinggang bukan karena main kuda kudaan, tapi sakit pinggang kena tendangan ronaldowati!” gerutu Bayu sambil menurunkan tubuhnya dari kasur. Dia duduk bersila di karpet. Meratapi nasib sialnya malam itu. Bayangan indah tidur di kasur empuk hanyalah angan, sekarang dirinya justru harus berdiri berjam jam di depan pintu dan berakhir duduk di karpet. Di satu sisi Bayu merasa kesal dengan keadaannya, tetapi di sisi lain dia juga merasa kasihan pada Maudy. Dia mendengar Maudy masih terus menangis, tapi Bayu tidak berani memandangnya. Biar bagaimanapun, Maudy adalah atasan yang harus dia hormati. Bayu maaih butuh kerjaan di kantornya, sehingga dia tidak bisa berbuat semena mena pada Maudy. “Kasihan sekali Bu Maudy. Dia pasti tertekan. Andaikan posisi kita tidak seperti ini, pasti aku akan mendekap dia dan menenangkannya agar berhenti menangis,” gumam Bayu di dalam hati. Setelah lama menghadapi situasi tegang itu, tenggorokan Bayu terasa kering. Dia mencoba meraih botol minum yang ada di atas meja. Setelah diraih, dia segera membukanya. Tapi, sebelum meneguk air minum itu, Bayu memikirkan Maudy yang pasti tidak kalah dahaganya seperti dia. Apalagi sejak tadi Maudy berteriak teriak sambil menangis. “Minumlah Bu Maudy. Pasti Bu Maudy haus,” ucap Bayu dengan hati hati sambil mengulurkan botol itu ke arah Maudy tanpa berani menatapnya. Maudy mendengar ucapan Bayu, tetapi dia tidak meresponnya. Tidak menolak dan juga tidak menerima. Namun, saat dia lihat Bayu sejak tadi menundukkan kepala saat mengulurkan botol minum itu, Maudy berpikir mungkin OB itu memang berniat tulus memberikan dia minum. Perlahan tangan Maudy meraih botol tersebut lalu meminumnya. Setelah itu, barulah Bayu mengambil satu botol air minum lagi untuk dirinya. Maudy sedikit tenang. Setidaknya tenggorokannya sedikit lebih nyaman dari sebelumnya. Dia juga tidak melihat Bayu melakukan tindakan yang tidak sopan. Bahkan, tidak lama kemudian Bayu mengatakan sesuatu yang membuat Maudy merenung. “Bu Maudy, saya tau apa yang saya lakukan ini salah. Seharusnya saya tidak menerima perintah Pak Rio. Tapi, saya masih butuh pekerjaan ini. Ancaman Pak Rio sangat menakutkan. Jika sampai saya dipecat dan diblacklist di semua perusahaan, bagaimana saya bisa bekerja? Padahal, saya butuh banyak uang untuk pengobatan Ibu saya,” ucap Bayu sembari tetap menundukkan kepalanya. Dari nada bicara Bayu, tidak ada sesuatu yang sengaja dibuat buat. Meski Bayu di kenal suka bercanda, tapi dia punya satu sisi bijak dan dewasa. Dia juga punya tanggung jawab besar atas Ibunya. Maudy mulai tersentuh dengan alasan Bayu saat menyebut nama Ibunya. Akan tetapi, dia tidak mau begitu saja terlihat Iba dan membenarkan tindakan Bayu. “Jika kamu bilang kamu terpaksa, apalagi dengan saya? Bahkan saya sangat membenci malam terkutuk ini! Apapun itu alasan kamu, tidak membuatku bisa menerima keadaan ini!” sahut Maudy dengan ketus dan membuang pandangannya ke arah jendela. Bayu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. Dia tidak membantah apapun yang diucapkan oleh bosnya. Karena memang itu hak seorang bos kepada bawahannya. Tetapi, dia hanya berusaha menjelaskan jika dia tidak bermaksud sengaja mengambil kesempatan di dalam kesempitan. “Apa kamu tidak berkaca betapa menjijikannya dirimu yang menerima uang dengan cara seperti ini? Apa kamu tidak menghormati Ibumu? Kau sembuhkan dia dengan cara yang menjijikkan!” Maudy sengaja melontarkan kata kata kasar pada Bayu, berharap pria itu marah, tidak terima, lalu pergi dan meninggalkan ruangan tersebut. Karena dia tau, laki laki akan marah jika dibentak bentak dengan kata kata yang kasar. Akan tetapi, yang terjadi berbeda. Dengan tenang, Bayu menanggapi cacian Maudy. “Bu Maudy benar. Saya ini menjijikkan. Ibuku pasti sangat malu dengan tindakanku. Tapi, menolak dan dipecat, lalu kesulitan mencari uang untuk pengobatan Ibu, itu juga tidak lebih menjijikkan bagi seorang anak laki laki yang tidak berguna,” ujar Bayu sembari semakin menundukkan kepalanya. Tampak ada beban yang benar benar berat yang dia pikul. Dan Maudy bisa melihatnya. “Bu Maudy boleh membenci saya karena menerima tawaran tugas ini, tapi jangan pernah berpikir saya akan memanfaatkan posisi ini. Tanpa kesediaan dari Bu Maudy, saya tidak akan memaksa.” Seketika Maudy mematung. Kata demi kata yang diucapkan oleh Bayu, bernada sangat lembut dan sopan. Tidak ada manipulasi, tidak ada kebohongan, apalagi nada kasar. Sangat berbeda dengan nada bicara Rio yang sering dia dengar. Tanpa disadari, Maudy merasa nyaman menikmati obrolan dinginnya dengan Bayu. Sepertinya, Bayu juga sangat memahami posisinya. Sehingga Maudy berniat untuk bicara lebih dalam tentang tekanan yang dia rasakan. Namun, belum sempat Maudy melanjutkan obrolannya, ponselnya tiba tiba berbunyi dan perhatian Maudy teralihkan ke panggilan tersebut. Bab 5 Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan. Maudy berusaha mengabaikan panggilan video itu sekali tetapi setelah panggilan itu berbunyi berulang kali, terpaksa dia harus menerima panggilan tersebut. “Haa..halo Bu,” jawab Maudy dengan bibir dan tangan gemetar saat melihat wajah Ibu mertuanya yang garang di layar. “Kenapa lama sekali terima telponnya? Maudy, kamu harus ingat, bulan ini kamu harus hamil jika namamu masih ingin tercatat di silsilah keluarga!” bentak Ibu mertua Maudy dengan penuh tekanan. “Iya Bu, aku…. Aku dan Mas Rio akan berusaha...“ jawab Maudy terbata bata dan hati yang berdebar debar. Apalagi saat itu dia sedang berdua saja dengan Rio di dalam kamar hotel. Dia tidak ingin Ibu mertuanya mengetahuinya. “Kamu dan Rio sudah bertahun tahun menikah, tapi kamu belum juga hamil! Jangan bilang kamu mandul! Kalau kamu sampai mandul, jangan salahkan Ibu jika akan mencarikan istri baru untuk Rio!” Tuuuuutt...tuuuttt...tuuuuutt Panggilan dimatikan paksa oleh Ibu mertua Maudy. Seolah menandakan jika ucapannya tidak main main. Meski tidak menghadap langsung dengan kamera, Bayu bisa mendengar bentakan dan tekanan dari Ibu mertua Maudy Dia hanya bisa diam sambil menggelengkan kepala. "Kasihan Bu Maudy, ditekan oleh suami dan Ibu mertuanya. Dasar Ibu mertua nggak tau diri, anak laki lakinya yang letoy, malah nuntut menantu perempuannya!" geram Bayu di dalam hati,natas sikap Ibu mertua Maudy. Setelah panggilan berakhir, Maudy melempar ponselnya ke atas kasur. Pikirannya makin kacau. Dia panik bukan main. Masa depannya seolah sedang berada di ujung tanduk. “Mandul? Bukan aku yang mandul Bu, tapi anakmu! Dan aku, tidak rela jika Ibu mencarikan Mas Rio istri baru! Aku harus hamil!” seru Maudy di dalam hati sembari menggelengkan kepala. Maudy berusaha menenangkan diri agar bisa berpikir secara tenang. Tapi, sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah suaminya. Maudy lantas memandang Bayu yang tengah duduk di lantai. Meski di dalam hatinya menolak, tetapi harapan dia satu satunya saat itu adalah Bayu. “Astaga, benarkah aku harus berhubungan badan dengan dia? Dia itu, OB. Dan dia bukan suamiku. Bisa bisanya aku bernasib sial seperti ini,” gumam Maudy meratapi kesialan nasibnya. Namun, saat itu bukanlah saat yang tepat untuk meratapi nasib. Tindakan nyata adalah solusi dari masalah yang dia hadapi. Dengan sedikit ragu, Maudy mulia melepas jaket tebalnya. Setelah jaket itu terlepas, nampak lengan putih Maudy karena dia hanya menggunakan dress putih tanpa lengan. Sekali lagi, dia meyakinkan hatinya atas tindakan menjijikan itu. “ Aku terpaksa harus melakukan hal yang menjijjkkan ini!” ucap Maudy di dalam hati sembari mempersiapkan diri untuk memanggil Bayu mendekat. Dia benar benar gugup. Bukan karena untuk pertama kalinya, tetapi karena dia akan bermain dengan laki laki asing, bukan suaminya. Dan sialnya, laki laki itu adalah OB di kantor yang dia pimpin. Maudy menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Dia ulang berkali kali agar dia benar benar tenang dan sanggup melakukan hal itu. Jangan sampai, di tengah jalan dia mendadak histeris dan menendang Bayu untuk menjauhinya. Setelah merasa lebih tenang, Maudy memanggil Bayu agar segera naik ke ranjang. “Bayu!” panggilnya, sambil menunjuk kasur sebelahnya. Bayu terkejut. Bosnya yang baru saja menangis dan marah tidak terkendali, tiba tiba memanggilnya ke atas kasur. Bahkan bosnya sudah melepas jaket tebalnya, hingga menyisakan gaun putih yang seksi. “Bu Maudy, anda serius?” tanya Bayu dengan ragu. Lalu Maudy mengangguk. Suasana di dalam kamar hotel mewah itu terasa sangat kontras. Di satu sisi, kemewahan furnitur dan aroma aromaterapi mahal menyelimuti ruangan, tapi di sisi lain, ada ketegangan yang menyesakkan. Ini bukan tentang cinta, ini adalah tentang sebuah kesepakatan pahit yang lahir dari keputusasaan. ​Bayu mulai melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. Ia tahu posisinya. Ia tahu ini hanya tugas, tapi nuraninya tidak membiarkannya memperlakukan Maudy sekadar sebagai objek. ​ "Bu Maudy... tolong lihat saya sebentar,” ucap Bayu dengan Suaranya yang rendah dan tenang, ia berlutut di lantai agar posisinya lebih rendah dari Maudy. "Lakukan saja tugasmu, Bayu. Suamiku sudah membayar mahal. Kita tidak perlu basa-basi,” jawab Maudy ​sambil menatap ke arah lain dengan suara yang bergetar. ​Tanpa permisi, Bayu mulai menyentuh punggung tangan Maudy dengan ujung jarinya, sangat ringan dan penuh hormat. "Saya tahu ini sulit bagi Ibu. Tapi saya tidak akan melakukannya jika Ibu merasa terancam. Saya bukan hanya sekedar alat. Malam ini, setidaknya, biarkan saya memastikan Ibu merasa nyaman." ​Maudy tertegun. Sentuhan Bayu di tangannya terasa hangat dan penuh empati, sangat berbeda dengan dinginnya sikap suaminya belakangan ini. Bayu perlahan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Maudy dengan gerakan yang begitu lembut, seolah Maudy adalah porselen yang mudah pecah. "Kenapa kamu melakukan ini? Kamu bisa saja langsung menyelesaikannya dan pergi." Ketus Maudy mencoba menutupi rasa nyamannya dengan sentuhan lembut Bayu. ​"Karena Ibu tetaplah manusia, bukan sekadar kontrak. Izinkan saya... membuat ini menjadi lebih mudah untuk Ibu,” ucap Bayu dengan begitu lembut. Setiap kata yang keluar dari bibir Bayu, seketika mampu menyentuh hati Maudy. Antara terpaksa dan mulai nyaman, Maudy tidak bisa membedakannya. ​Dia Mulai sedikit tenang, rasa tegang di bahunya perlahan meluruh.​ Bahkan amarah yang tadinya membara, seketika padam. Sentuhan Bayu yang tidak menuntut itu secara perlahan meruntuhkan tembok pertahanan Maudy. Di tengah situasi yang ironis tersebut, ada sedikit rasa dihargai yang Maudy rasakan, sesuatu yang selama ini ia rindukan di dalam rumah tangganya sendiri. Setelah membuat Maudy merasa nyaman, tangan Bayu mulai bekerja lebih liar. Bayu mulai menyentuh bagian bagian tubuh sensitif Maudy dengan penuh kelembutan. Dengan hati hati, dia mulai mendaratkan ciuman, hingga tanpa Maudy sadari dia makin larut dalam pemanasan tersebut. Sentuhan liar yang lembut, yang belum pernah dia dapat dari Rio. “Uuhhhh,” lenguh Maudy tanpa dia sadari. Dan seketika hal itu membuat Bayu makin bangga pada dirinya. “Yes! Akhirnya aku berhasil meluluhkan singa betina yang liar. Bu Maudy, aku akan memuaskanmu. Dan aku pastikan benihku tertanam dengan baik di rahimmu, lalu akan melahirkan anak yang ganteng seperti aku!” celetuk Bayu di dalam hati, sambil terus memberikan sentuhan lembut pada Maudy

Hubungi Kami